Pernah nggak, malam sudah jam 11, badan capek, mata ngantuk… tapi kepala malah rapat internal?
Ngulang chat tadi siang. Kepikiran omongan atasan. Tiba-tiba ingat keputusan 3 tahun lalu yang sebenarnya sudah nggak relevan.
Overthinking memang capek. Bukan cuma mental, tapi fisik juga ikut drop. Jantung deg-degan, dada terasa sesak, tidur nggak nyenyak. Besoknya bangun dengan energi minus.
Masalahnya, overthinking itu sering terasa seperti “usaha jadi orang yang hati-hati”. Padahal seringnya bukan hati-hati. Itu cuma pikiran yang muter di tempat tanpa solusi.
Kami sering lihat pola yang sama:
Semakin ingin kontrol semuanya, semakin pikiran terasa liar.
Ringkasan Cepat
Overthinking terjadi karena otak ingin merasa aman. Tapi terlalu banyak berpikir tanpa aksi justru bikin lelah. Kuncinya bukan mematikan pikiran, melainkan mengarahkannya dan membatasi ruangnya.
- Ringkasan Cepat
- Apa Itu Overthinking dan Kenapa Bikin Lelah
- Penyebab Overthinking yang Sering Tidak Disadari
- 1. Perfeksionisme dan Takut Salah
- 2. Kebiasaan Membandingkan Diri
- 3. Terlalu Banyak Informasi
- Cara Menghentikan Overthinking Tanpa Drama
- 1. Batasi Waktu untuk Memikirkan Masalah
- 2. Ubah Pikiran Jadi Tulisan
- 3. Teknik Grounding Saat Pikiran Mulai Muter
- 4. Bedakan Antara Refleksi dan Overthinking
- Cara Mengatasi Overthinking Saat Mau Tidur
- Overthinking Bukan Musuh, Tapi Sinyal
Apa Itu Overthinking dan Kenapa Bikin Lelah
Secara sederhana, overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan tanpa menghasilkan keputusan jelas.
Otak kita sebenarnya dirancang untuk mencari ancaman. Jadi wajar kalau ia suka memprediksi kemungkinan terburuk. Masalah muncul ketika prediksi itu tidak diimbangi tindakan.
Contoh nyata:
Kirim email ke klien. Belum dibalas 3 jam.
Pikiran langsung bikin film sendiri. “Jangan-jangan salah proposal. Jangan-jangan mereka kecewa. Jangan-jangan kerjaan gagal.”
Padahal?
Bisa jadi mereka lagi meeting.
Overthinking bikin capek karena otak terus aktif, seolah sedang menghadapi bahaya, padahal realitanya tidak selalu seperti itu.
Penyebab Overthinking yang Sering Tidak Disadari
1. Perfeksionisme dan Takut Salah
Orang yang ingin semuanya sempurna lebih rentan overthinking. Karena setiap keputusan terasa seperti penentu masa depan.
Masalahnya, hidup jarang sesederhana benar atau salah.
2. Kebiasaan Membandingkan Diri
Scrolling media sosial bisa jadi bahan bakar overthinking.
Lihat teman sudah menikah. Ada yang sudah jadi manajer. Ada yang buka bisnis.
Lalu muncul pikiran, “Kenapa kami masih di sini?”
Padahal kita jarang tahu cerita lengkap di balik foto mereka.
3. Terlalu Banyak Informasi
Era digital bikin kita terpapar opini, saran, dan standar hidup yang tidak ada habisnya. Terlalu banyak input tanpa filter bikin pikiran penuh.
Cara Menghentikan Overthinking Tanpa Drama
Sekarang masuk ke bagian penting. Bukan teori klise seperti “jangan dipikirkan”. Kalau bisa semudah itu, semua orang sudah tenang.
1. Batasi Waktu untuk Memikirkan Masalah
Ini terdengar aneh, tapi efektif.
Berikan waktu 15–20 menit khusus untuk memikirkan satu masalah. Set timer. Setelah itu selesai.
Otak suka struktur. Kalau diberi batas, ia lebih terkendali.
2. Ubah Pikiran Jadi Tulisan
Overthinking itu abstrak.
Begitu ditulis, ia jadi konkret.
Coba tulis tiga kolom:
- Hal yang ditakutkan
- Kemungkinan terburuk realistis
- Langkah kecil yang bisa dilakukan
Sering kali setelah ditulis, masalah terasa jauh lebih kecil.
3. Teknik Grounding Saat Pikiran Mulai Muter
Saat overthinking muncul tiba-tiba, coba teknik sederhana:
Sebutkan 5 hal yang terlihat, 4 yang bisa disentuh, 3 yang terdengar, 2 yang tercium, 1 yang dirasakan.
Kedengarannya sederhana, tapi ini mengembalikan fokus ke realitas, bukan ke skenario di kepala.
4. Bedakan Antara Refleksi dan Overthinking
Refleksi itu belajar dari kejadian.
Overthinking itu mengulang kejadian tanpa pelajaran baru.
Kalau sudah memikirkan hal yang sama lebih dari tiga kali tanpa insight baru, itu tanda berhenti.
Cara Mengatasi Overthinking Saat Mau Tidur
Ini salah satu momen paling rawan.
Beberapa hal yang bisa dicoba:
- Jangan bawa ponsel ke kasur.
- Tulis daftar “besok harus apa” sebelum tidur.
- Gunakan white noise atau musik instrumental ringan.
Kami pribadi lebih suka menulis to-do list sebelum tidur. Aneh memang, tapi begitu semuanya keluar dari kepala ke kertas, pikiran lebih tenang.
Overthinking Bukan Musuh, Tapi Sinyal
Kadang overthinking muncul karena ada hal yang memang perlu dibereskan. Bisa jadi pekerjaan menumpuk. Bisa jadi komunikasi belum selesai.
Alih-alih memusuhi pikiran, coba tanyakan:
“Ini sebenarnya takut apa?”
Sering kali jawabannya sederhana: takut gagal, takut ditolak, takut tidak cukup baik.
Dan itu sangat manusiawi.
Overthinking bikin capek karena kita mencoba menyelesaikan masa depan di dalam kepala, bukan lewat tindakan kecil hari ini.
Menghentikan pikiran yang muter terus bukan soal memaksa diri jadi tenang. Tapi soal memberi batas, memberi arah, dan kadang… menerima bahwa tidak semua hal bisa dikontrol.
Semakin kita mencoba mengontrol semuanya, semakin lelah rasanya. Tapi ketika mulai fokus pada langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini, beban itu perlahan berkurang.
Tidak semua pikiran harus dipercaya.
Tidak semua skenario perlu ditanggapi.
Dan kalau hari ini masih overthinking, itu bukan berarti lemah. Itu cuma tanda bahwa otak sedang bekerja terlalu keras.
Sekarang tinggal pilih: terus diputar di kepala, atau mulai diturunkan jadi aksi kecil.
dibaca: 9









