Jurusan Kuliah yang Banyak Disesali Lulusannya

Jurusan Kuliah yang Banyak Disesali Lulusannya

Seedbacklink
Seedbacklink

Ada satu momen yang sering muncul setelah wisuda. Bukan momen foto toga. Bukan lempar topi. Tapi momen ketika mulai kirim CV dan tiba-tiba sadar, “Loh… ini kok nggak nyambung ya?”

Banyak yang tidak menyesal karena jurusannya jelek. Mereka menyesal karena ekspektasi dan realita ternyata jauh berbeda.

Beberapa tahun lalu, kami sempat ngobrol dengan beberapa fresh graduate. Polanya mirip. Waktu SMA pilih jurusan karena ikut teman, kata orang tua, atau sekadar “yang penting negeri dulu”. Saat masuk dunia kerja, baru terasa dampaknya.


Ringkasan Cepat

Bukan berarti ada jurusan yang benar-benar salah. Penyesalan biasanya muncul karena kurang riset, salah ekspektasi, atau tidak memahami prospek kerja sejak awal. Kuncinya ada di kesiapan dan strategi, bukan sekadar nama jurusan.


Kenapa Banyak Lulusan Menyesal dengan Jurusannya

Sebelum menyebut contoh jurusan kuliah yang banyak disesali lulusannya, penting untuk pahami dulu akar masalahnya.

1. Ekspektasi Tidak Sesuai Realita

Banyak yang masuk jurusan dengan bayangan glamor. Ternyata realitanya lebih teknis, lebih rumit, atau bahkan monoton.

Contoh sederhana: masuk jurusan komunikasi karena ingin jadi presenter atau public figure. Setelah kuliah, justru ketemu statistik komunikasi, teori media, riset kuantitatif. Tidak semua siap dengan sisi akademisnya.

2. Kurang Informasi Tentang Prospek Kerja

Sebagian mahasiswa baru jarang benar-benar membaca data pasar kerja. Fokusnya lolos dulu. Soal kerja nanti dipikirkan belakangan.

Padahal beberapa jurusan punya jalur karier yang spesifik. Kalau tidak siap bersaing atau melanjutkan studi, peluangnya jadi lebih sempit.

3. Tekanan Lingkungan

Ada juga yang memilih jurusan karena “kata orang ini bagus”. Padahal minatnya beda jauh. Selama kuliah mungkin masih bisa bertahan. Tapi saat kerja, rasa tidak cocok itu makin terasa.

Jurusan Kuliah yang Banyak Disesali Lulusannya

Perlu digarisbawahi: ini bukan berarti jurusan ini buruk. Hanya saja, berdasarkan banyak cerita alumni dan tren diskusi publik, jurusan berikut sering muncul dalam daftar penyesalan.

1. Jurusan dengan Prospek Kerja yang Tidak Spesifik

Beberapa jurusan sosial-humaniora sering dianggap fleksibel. Memang benar. Tapi fleksibilitas juga berarti persaingan luas.

Lulusan kadang bingung mau masuk industri apa. Akhirnya melamar ke mana saja tanpa arah yang jelas.

Bukan salah jurusannya, tapi perlu strategi ekstra sejak semester awal.

2. Jurusan dengan Lapangan Kerja Terbatas

Ada jurusan yang memang spesifik. Misalnya bidang yang sangat niche atau tergantung industri tertentu.

Ketika industri sedang lesu, lulusannya ikut terdampak. Tanpa skill tambahan, pilihan jadi terbatas.

3. Jurusan yang Butuh Pendidikan Lanjutan

Beberapa bidang menuntut jenjang S2 atau sertifikasi tambahan untuk benar-benar berkembang.

Kalau sejak awal tidak siap dengan biaya dan waktu tambahan, rasa menyesal bisa muncul setelah lulus S1.

Penyebab Jurusan Kuliah Disesali Lulusannya

1. Salah Pilih Jurusan Karena Ikut-ikutan

Fenomena ini masih sering terjadi. Teman daftar A, ikut A. Padahal minat dan kemampuan beda.

Kuliah itu empat tahun lebih. Ikut-ikutan bisa terasa sangat panjang.

2. Tidak Mengembangkan Skill di Luar Kampus

Realitanya, ijazah saja jarang cukup. Dunia kerja melihat pengalaman, portofolio, dan kemampuan praktis.

Ada lulusan yang menyesal bukan karena jurusannya, tapi karena selama kuliah tidak aktif magang atau ikut proyek.

3. Tidak Siap dengan Dunia Kerja

Banyak mahasiswa fokus lulus cepat. Tapi tidak mempersiapkan diri untuk transisi ke dunia profesional. Akhirnya kaget ketika tuntutan kerja berbeda jauh dari teori kampus.

Cara Memilih Jurusan Agar Tidak Menyesal

Kalau masih SMA atau baru mau kuliah, ini bagian penting.

1. Riset Lebih Dalam dari Sekadar Nama Jurusan

Jangan cuma lihat nama. Lihat kurikulumnya. Buka silabus. Cari tahu mata kuliahnya detail.

Kalau perlu, tanya alumni. Media sosial memudahkan sekarang. Satu DM bisa membuka banyak insight.

2. Cek Realita Pasar Kerja

Lihat lowongan kerja di bidang itu. Apakah banyak? Apa syaratnya? Perlu sertifikasi tambahan?

Kalau jurusan impian butuh skill tambahan, siapkan dari awal.

3. Kenali Pola Diri Sendiri

Apakah lebih suka kerja dengan angka? Dengan orang? Dengan sistem? Dengan ide kreatif?

Kadang kita tahu minat, tapi tidak sadar gaya kerja pribadi. Itu penting.

Apakah Harus Takut Salah Jurusan

Tidak juga.

Banyak orang sukses bekerja tidak linear dengan jurusannya. Dunia kerja sekarang lebih dinamis.

Yang jadi pembeda bukan jurusannya, tapi bagaimana seseorang mengembangkan diri selama kuliah.

Kami pernah bertemu lulusan teknik yang kini bekerja di digital marketing. Ada juga lulusan sastra yang sukses di bidang HR. Jalur tidak selalu lurus, dan itu bukan masalah.


Jurusan kuliah yang banyak disesali lulusannya biasanya bukan karena jurusannya jelek, tapi karena ekspektasi yang tidak realistis dan kurang persiapan.

Penyesalan sering muncul saat lulus dan menghadapi dunia kerja tanpa strategi. Padahal sejak awal, banyak hal bisa diantisipasi.

Memilih jurusan memang penting, tapi lebih penting lagi bagaimana menjalani prosesnya. Aktif magang, bangun portofolio, dan perluas jaringan sejak dini.

Kalau sekarang merasa salah jurusan, itu juga bukan akhir. Skill bisa ditambah. Arah bisa diubah. Dunia kerja lebih fleksibel dari yang dibayangkan.

Yang perlu dihindari bukan salah jurusan. Tapi berhenti berkembang.



dibaca: 8
Terakhir Diperbarui: 16 Februari 2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top